Mengenal Sejarah dan Motif Batik Betawi Milik Ibukota

Batik yang selalu diidentikkan dengan Jawa, juga dimiliki oleh Jakarta. Namun, tidak banyak orang mengenal batik khas masyarakat Betawi ini sebab pamornya menurun semenjak tahun 1970. Padahal, masyarakat yang tinggal di Ibukota dahulu senang mengenakan pakaian ini. Bahkan, kain batik ini hanya dapat dikenakan oleh kalangan atas–saat itu warga Belanda yang tinggal di Indonesia–karena harganya yang mahal.

Menurut sejarah, masuknya batik ke Jakarta diawali dengan datangnya pengusaha batik asal Pekalongan dan Solo yang mengembangkan bisnis kain ini pada abad 19. Di tahun itu, Indonesia masih dikuasai Belanda dan Jakarta menjadi salah satu tempat kediaman mereka. Di antara warga Belanda itu, ada seorang pengusaha batik premium bernama Elza Van Zuylen.

Eliza memiliki batik gaya buketan dengan motif bunga model Eropa dan dihiasi gambar burung. Batiknya dibuat di atas kain warna cerah untuk menyesuaikan selera berpakaian orang Kaukasia. Untuk pemakaiannya, kain dililitkan pada bagian pinggang, kemudian dipadukan dengan atasan renda, seperti mengenakan kebaya dan batik pada saat ini. Pada masa itu, fashion miliknya tidak diproduksi di Jakarta, melainkan di kota Pekalongan sejak tahun 1890-1946.

Bersama dengan perkembangan zaman, masyarakat Betawi akhirnya memiliki motif batik tersendiri dengan berbagai filosofi yang tersirat di baliknya. Ciri khas utama Batik Betawi terdapat pada kain sarung yang menonjolkan motif Tumpal, yaitu motif geometris berbentuk barisan segitiga. Bila dikenakan, corak tersebut harus berada pada sisi depan.

Batik Betawi lebih berfokus pada kesenian budayanya yang dipengaruhi kebudayaan dari berbagai negara, yakni Arab, Belanda, India, dan Cina. Ada banyak ragam corak yang tertuang dalam batik khas Batavia ini.

Mulai dari motif Loreng Ondel-ondel, motif yang menggambarkan figur boneka khas Jakarta. Boneka ondel-ondel sendiri dipercaya sebagai penolak bala atau menjauhi sikap buruk. Oleh karena itu, batik motif ini lebih sering dikenakan dalam upacara adat Betawi.

Ada pula Batik Betawi Motif Nusa Kelapa, motif ini terinspirasi dari Peta Ceila yang dibuat pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi. ‘Nusa Kelapa’ sendiri merupakan salah satu nama yang pernah dipakai untuk menyebut kota Jakarta.

Motif Batik Ciliwung, memiliki filosofi yang berarti harapan untuk si pemakai agar memiliki daya tarik kuat, serta mendapatkan kelancaran rezeki seperti aliran sungai. Sementara motif batik Rasamala menggambarkan sejarah wilayah Jakarta yang dahulu merupakan hutan lebat dan dipenuhi pohon rasamala saat Belanda pertama kali datang.

Terakhir ada motif Salakanagara, mengangkat kisah kerajaan pertama di Betawi yang didirikan Aki Tirem pada tahun 130 M. Salakanegara juga memiliki hubungan erat dengan kepercayaan masyarakat masa tersebut akan kekuatan yang dimiliki Gunung Salak, Bogor.

Berkurangnya perhatian dan pengrajin batik asli Jakarta membuat kekayaan budaya ini menghilang bak ditelan bumi. Namun, sahabat Saliha dapat menemukan kain tradisional ini dalam pameran atau acara besar adat Betawi. Hmm, semoga salah satu kebudayaan betawi ini dapat kembali hidup agar dapat dinikmati anak-cucu kita, ya!

 

Sumber :saliha.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *