Hikayat Perang Bajak Laut dan Prajurit Mataram di Batik Cilacap

Alkisah, di suatu masa, Kadipaten Cilacap terancam oleh serangan bajak-bajak laut dari negeri seberang. Mereka merusak, membakar, dan menjarah kekayaan penduduk pesisir.

Lantas, penguasa Mataram mengirimkan empat perwira nan sakti, yakni Jaga Playa, Jaga Praya, Jaga Resmi, dan Jaga Laut. Mereka membangun benteng pertahanan di sekitar Pulau Nusakambangan. Berkat kehebatan para prajurit Mataram itu, perairan Cilacap aman, bebas dan mencapai kejayaan.

Para prajurit Mataram yang berhasil mengalahkan dan mengusir bajak laut itu tak lantas kembali ke pusat kerajaan Mataram. Mereka membangun perkampungan nan damai dan sejahtera. Para penjaga dari Mataram ini menjamin keamanan nelayan cilacap dan wilayah pesisir selatan Jawa.

Kisah itu lantas ditorehkan oleh seniman-seniman batik Kutawaru, Cilacap Tengah. Goresan canthing di kain-kain batik mengabadikan cerita bagaimana para prajurit Mataram mengalahkan perompak di lautan, dengan motif laut.

Warna dasar kain yang sedikit gelap, antara hitam, cokelat, dan abu-abu menggambarkan masa konfrontasi dan pemulihan. Warna gelap itu kontras dengan warna motif yang menyembul tegas, dengan warna-warna kuat dan cerah. Menandakan harapan dan kepercayaan nelayan kepada para prajurit penjaga.

Bertahun-tahun kemudian, bajak laut dikalahkan dalam perang laut, terusir dan tak memiliki keberanian kembali ke perairan Cilacap. Maka, penduduk pun mulai membangun kota pelabuhan.

Konon, Jaga Playa dan Jaga Praya kemudian bermukim di daerah yang sekarang disebut Klapalima. Adapun Jaga Resmi dan Jaga Laut memilih tinggal di Pulau Nusakambangan.

Perwira lainnya, Jaga Resmi bermukim di daerah yang kini disebut Legok Pari. Sementara, Jaga Laut bertempat tinggal di Gebang Kuning atau yang sekarang dikenal dengan nama Kembang Kuning. Daerah yang kemudian juga dipakai sebagai nama penjara kuno di Pulau Nusakambangan.

Usai bajak laut terusir, nelayan bebas mengarungi laut selatan Jawa dan Segara Anakan untuk menangkap ikan. Pola perniagaan dan produksi kapal berkembang. Cilacap, tumbuh menjadi kota pelabuhan perikanan dan bongkar muat barang yang penting di Jawa.

Keberanian nelayan mengarungi samudera selatan yang terkenal ganas juga tergambar dalam batik tulis motif kapal laut, dengan warna yang berbeda. Dasar kain berwarna biru muda dipadu motif putih, adalah pertanda yang menunjukkan bahwa nelayan meraih masa jaya dan kesejahteraan.

“Ini motif kapal laut, karena masyarakat pesisir cilacap adalah nelayan,” ucap pengelola sebuah pusat batik di Cilacap, Yuli Ningrum.

Kesaktian para prajurit mengalahkan bajak laut juga tergambar pada motif wijayakusuma, yakni bunga legendaris yang dipercaya berasal dari Pulau Nusakambangan. Warna dasar hitam dengan motif besar dan berwarna cerah menunjukkan keteguhan para prajurit menjaga wilayah perairan Cilacap dari Nusakambangan.

 

Sumber : Liputan6.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *