Batik Tidayu, Harmoni di Singkawang dalam Selembar Kain

Singkawang, sebuah kota kecil di Kalimantan Barat, juga punya corak batik yang menjadi ciri khas. Namanya Batik Tidayu. Nama itu merupakan singkatan dari Tionghoa, Dayak dan Melayu. Ya, ketiganya adalah tiga etnis mayoritas di Kota Singkawang yang hidup berdampingan dengan suku lainnya.

Batik Tidayu mulai dipopulerkan sejak sepuluh tahun lalu. Ide dan gagasan batik ini sendiri berawal dari sayembara desain yang digagas oleh Elisabeth Majuyetty, istri Hasan Karman, mantan Wali Kota Singkawang periode 2007-2012. Hasilnya, ada enam corak batik yang saat ini bisa diperoleh hanya di galeri Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Singkawang yang terletak di Jalan Gusti Sulung Lelanang ini.

Sejak wilayah Kabupaten Sambas dimekarkan menjadi tiga wilayah pada akhir tahun 90-an, Singkawang seolah kehilangan identitas. Pemekaran itu di antaranya Kabupaten Sambas, Kabupaten Bengkayang dan Kota Singkawang.

Staf Dekranasda Kota Singkawang, Uchie Marchan mengungkapkan, Batik Tidayu berawal dari kenyataan bahwa tidak ada suvenir khas Singkawang yang bisa dibawa pulang oleh para wisatawan yang datang berkunjung. Maka, muncullah ide mengadakan sayembara motif batik.

“Melihat dari kota yang kaya akan suku dan budaya, maka muncullah ide Batik Tidayu yang merupakan singkatan dari Tionghoa, Dayak dan Melayu,” ungkap Uchie. Uchie menambahkan, desain motif Tidayu sendiri terdiri dari pengembangan berbagai motif yang mewakili masing-masing kebudayaan yang ada di Kota Singkawang. “Sehingga Batik Tidayu memiliki corak yang sangat unik dan penuh warna,” ujar Uchie.

Saat ini terdapat enam corak Batik Tidayu yang masing-masing memiliki ciri khas tersendiri, yaitu Lembayung, Beuntai, Lampion, Rimba, Harmoni dan Bangau. Setiap corak terdiri dari tiga unsur yang mewakili masing-masing etnis yang ada dan dicetak beraneka pilihan warna.

Misalnya pada corak batik Rimba, terdapat motif pucuk rebung ciri khas Melayu Sambas yang digambarkan sebagai hutan rimba, di atasnya terdapat burung Hong dalam mitologi China dan burung Enggang yang identik dengan masyarakat Dayak. Lalu pada motif Harmoni, detail oriental kotak persegi di antara sisi dihias dengan motif pucuk rebung Melayu di bagian tengah dan diikat dengan motif Dayak. Sesuai namanya, motif ini melambangkan keharmonisan suku dan budaya yang ada di Kota Singkawang.”Saat ini salah satu oleh-oleh yang paling diminati setiap wisatawan yang berkunjung ke Galeri Dekranasda ini ya Batik Tidayu itu,” pungkas Uchie.

 

Sumber : kompas.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *